Hampir melewati tahun ke-empat, sejak Levina putus dengan Dewa, namun
keakraban yang masih terjalin di antara keduanya nyaris membuat Levina
tak pernah merasakan kesendirian setelah berpisah dari Dewa. Bisa
dibilang mereka memang putus secara lisan, namun secara fisik tidak.
Antara Levina dan Dewa masih terjalin komunikasi dan mereka sering jalan
bersama.Kata orang hubungan seperti ini rawan CLBK (cinta lama bersemi
kembali). Tapi dulu Dewa pernah bilang bahwa dia penganut paham ANTI
“teklek kecebur kalen” yang artinya daripada nyari pacar baru mending
balikan sama mantan. Intinya, Dewa anti balikan lagi sama mantan. Kalo
begitu berarti Teman tapi mesra dong..? Auk ah gelap! Levina tak mau
ambil pusing, apalagi saat ini dia pun sudah punya pacar baru, namanya
Edho.
Dewa tau kalo Levina sudah punya pacar baru. Levina sendiri
yang bilang begitu kepadanya. Namun entah mengapa ia merasa belum siap
jika harus kehilangan kebersamaan dengan Levina.
” Akh, lagian Vina sendiri juga mau aja diajak jalan”, batin Dewa menghibur rasa bersalah yang tiba-tiba terbersit.
Hanya Edho saja rupanya yang tidak tau bahwa pacarnya yang cantik itu
masih kerap jalan dengan sang mantan. Maklumlah, dia berada di luar kota
karena mendapat beasiswa untuk kuliah di Universitas Negeri di Jakarta.
Sedangkan Vina dan Dewa keduanya tetap kuliah di kota asal, Yogyakarta.
” Ini kan bukan cinta segitiga. Aku sama Dewa cuma temenan kok.
Memangnya salah…??”, kata Levina pada sahabatnya, Ayu yang sedang
menanyakan perihal kedekatannya dengan Dewa
” Iyaa.. salah”, jawan Ayu hati-hati takut menyinggung sahabatnya.
” Tapi aku sama Dewa itu nggak pernah ngomongin perasaan. Dia juga tau
kok aku punya pacar”, kata Vina lagi. Dalam hatinya dia mulai ragu,
apakah memang yang di katakan Ayu benar adanya.
” Hmm.. Coba gimana
kalo keadaannya dibalik aja. Gimana kalo ternyata diam-diam selama ini
Edho jalan sama mantannya juga. Kamu terima? ” sambung Ayu lagi. Vina
menggeleng.
” Enggaklah.. Aku nggak mau” jawabnya pelan.
Sejak
percakapan itu hati Levina makin tak karuan. Dia terus bertanya pada
diri sendiri apakah sebaiknya tetap akrab dengan Dewa ataukah membatasi
diri karena dia sudah menjadi milik Edho. Vina cinta sama Edho, tapi dia
juga sayang sama Dewa. Apalagi keluarga Dewa juga sudah dekat
dengannya. Rasanya nggak enak jika ia menolak ajakan Dewa untuk jalan
bareng, apalagi Vina sendiri juga merasa aman bersama Dewa.
Kadang
dia bertanya-tanya apakah Dewa masih mencintainya. Dewa orangnya sangat
tertutup.sewaktu pacaran dulu saja, ia sangat jarang mengumbar kata
cinta. Apalagi sekarang. Vina juga malu jika harus menanyakan langsung
perasaan Dewa kepadanya. Takut dikira ke GR-an.
” Kamu sering jalan-jalan juga sama pacarmu? ” tanya Dewa suatu sore saat mereka makan bersama di sebuah foodcourt./p>
” Iya, sering. Hobi kami sama, wisata kuliner” jawab Levina dengan
mata berbinar-binar. Sekilas rasa rindu pada Edho merasuk di dada.
” Kamu suka sama dia..? ” tanya Dewa. Hmm.. Sebuah pertanyaan yang aneh untuk dipertanyakan. Namun Vina mengangguk pelan.
” Dia butuh aku..” katanya kemudian
” Maksudmu..? ” tanya Dewa
” Dia pernah bilang butuh aku. Kadang kami menangis bersama saat
melewati masa yang berat. Dia nggak sekuat kamu. Aku yakin kalo kamu
bisa melewati apapun tanpa aku.. “
Dewa menatap dalam ke arah Vina.
Entah apa yang dipikirkannya. Akh, Vina.. Engkau kan tau Dewa bukan
pria yang pandai merangkai kata.
” Kamu aja yang nggak tau, Vin…” kata Dewa.
Vina hanya diam, enggan menanyakan apa maksudnya. Tiba-tiba ia merasa nggak nyaman pembicaraan telah berubah jadi serius.
Oh Tuhan, semoga aku nggak salah mengambil keputusan, doa Levina dalam hati.
###September datang. Vina telah memutuskan jauh-jauh hari untuk
mengunjungi Edho di bulan ini. Bulan september ini mereka akan merayakan
berdua hari jadian yang ke-tiga tahun. Tak terbayang oleh Vina betapa
senangnya ia akan segera bertemu Edho. Kini, harapan itu hampir nyata.
Edho akan segera menjemputnya di bandara.
Tak lama dilihatnya sosok
yang begitu dirindunya, Edho yang rapi yang senantiasa berkemeja dan
wangi. Duh, Vina segera berlari memeluknya. Ada kerinduan yang
membuncah. Edho pun terlihat begitu senang dapat bertemu lagi dengan
Levina. Tangan kekarnya memeluk tubuh Vina dan lalu menggandengnya
hingga ke parkiran
” Met hari jadian ya..” kata Vina manja.
” Iya , moga kita awet ya, selamanya saling cinta” balas Edho.
” Aku sudah menyiapkan makan malam buat acara kita ini, kuharap kamu
akan suka” kata Edho. Vina tersenyum manis. Ya, saat ini apapun pasti
dia suka, asalkan bisa bersama Edho.
Bip! Bip! Vina melihat
ponselnya. Suara alarm. Dia lupa ternyata pernah mensetting sebuah
agenda di hari bersejarahnya ini. Tulisannya cukup kecil di ponsel Vina
tapi cukup jelas terbaca ” Ultahnya Dewa”. Rupanya keceriaan hari ini
sampai-sampai membuat Vina lupa bahwa Dewa juga ulangtahun di hari yang
sama dengan hari jadiannya bersama Edho. Hanya sebuah kebetulan hari
jadi itu sama, kadang malah Vina merasa itu menguntungkan dirinya.
Sehingga tak pernah terlewatkan memberi ucapan ultah pada Dewa.
Alarm ini menyelamatkan Vina yang hampir terlupa hari ultah Dewa. Di
bukanya pesan baru dan menuliskan beberapa kata ucapan ultah untuk Dewa.
” Dari siapa, Vin..?” tanya Edho mengagetkan Vina.
” Oh, cuma alarm agenda kok “
” Memang ada acara lain, Vin kok pake di alarm segala”, tanya Edho menyelidik
” Akh enggak. Ini.. Ini.. Alarm hari jadi kita..”
jawab Vina, asal. Edho tersenyum.
###Akhirnya Vina membatalkan mengirim ucapan ultah untuk Dewa. Dan ini
pertama kalinya sejak mengenal Dewa, Vina melewatkan ucapan ultah pada
Dewa. Selain hari itu dia seharian bersama Edho, di satu sisi kata hati
Vina mulai merasa bersalah masih begitu perhatian pada Dewa padahal
sudah ada Edho di sisinya. Dia pun pasti nggak suka jika tau semisal
Edho masih ingat hari ultah mantannya, apalagi sampai memberi ucapan
selamat segala.
” Maafkan aku ya Dewa, sengaja lupa hari ultahmu” kata Vina dalam hati.
###Dua hari kemudian Vina kembali ke Yogja. Tak menunggu lama, malamnya Dewa datang.
” Met ulangtahun ya, Dewa..” sambut Vina. Dewa diam saja, wajahnya nampak serius.
” Kamu nggak ngucapin di hari ultahku. Nomerku hilang..?” tanya Dewa datar
” Ada kok nomermu. Tapi aku memang nggak ngucapin. Yang penting kan sekarang juga udah ngucapin” jawab Levina polos.
Dewa nggak lama berkunjung malam itu. Dia berpamitan. Ada yang beda di
raut wajahnya, seperti marah atau benci? Akh, Vina berusaha tak
berburuk sangka. dia sudah lama kenal sama Dewa. Nggak mungkinlah hanya
karena (sengaja) lupa memberi ucapan selamat ultah, dewa akan marah.
Tapi sejak hari itu Dewa tak pernah datang lagi ke rumah Vina maupun
dalam hidup Vina. Bahkan telponnya pun tulalit tiap Vina coba
menghubungi.
” Aku ganti nomer.. ” jawab Dewa singkat saat Vina menanyakannya dengan berkunjung ke rumah Dewa.
” Berapa?”
” 081914677***”
” Oke aku save ya”
Setibanya dirumah, Vina langsung menghubungi nomer baru Dewa, dan
ternyata tetap tulalit. tiba-tiba Vina merasa sangat sedih, ia sadar
Dewa sengaja menjauhinya. Dewa telah memberinya nomer palsu.
” Ya
Tuhan, kenapa jadi begini. Seandainya aku tau betapa pentingnya ucapan
ultah itu bagi Dewa. Tapi Dewa.. Kenapa juga kamu berpikiran begitu
sempit menganggap ucapan itu adalah jawaban akhir atas apapun
prasangkamu. Harusnya kamu lebih bisa mengutarakan semua yang kamu
rasa…” tak terasa air mata mengalir di pipi Vina. Sama sekali ia tak
menduga hubungan baik yang telah terjalin beberapa tahun ini harus
berakhir hanya karena ia (sengaja) lupa mengucapkan selamat ulang tahun.
###” Pleased Birthday, September! “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar